Seni Bekerja di Rumah

Perkembangan karir belakangan ini membuat saya bisa lebih sering bekerja di rumah. Banyak kok hal-hal yang saya rasa cukup bermanfaat dengan bekerja di rumah ini. Saya jadi lebih leluasa meluangkan waktu dengan keluarga, itu satu. Selain itu juga, dan ini sangat penting, tidak perlu meluangkan waktu lama di jalanan. Crap, biasanya saya sampai kantor itu sudah mendulang stress cukup tinggi karena semrawutnya jalanan dan tipe berkendara orang-orang di Jakarta. Belum macet, panas dan parkir yang kadang susah.
Tapi dibelakang semua luxury itu, ada kompensasi yang harus dihadapi. Kebebasan yang didapat membuat saya harus meningkatkan disiplin diri. Harus. Hal itu sudah menjadi sebuah komitmen terhadap perubahan ini.
Ini beberapa hal yang saya sesuaikan, supaya produktifitas tidak terganggu dengan bekerja dari rumah:
Rise up and dress up!
Tidak. Bekerja dirumah bukan artinya saya leluasa untuk tidur sampai siang.
Saya membiasakan untuk menetapkan jam berapa saya harus mulai kerja. Dalam hal ini adalah jam 08:30.
Saya tetap bangun pagi untuk menemani anak-anak sebelum pergi sekolah. Kemudian saya gunakan waktu untuk melakukan update kegiatan online saya, terutama email, Feed reader, Twitter dan Facebook. Disini saya mendapatkan keleluasaan yang cukup berbeda dibanding waktu masih pergi ke kantor, yaitu waktu update jadi lebih lama. Saya juga sempat untuk browsing content dan mencoba beberapa tools online baru.
Put on a decent outfit. Jangan pakai piyama pula. Saya memang tidak menggunakan jas dan dasi, saya selalu menggunakan pakaian yang nyaman bahkan ketika waktu masih berkantor. Bekerja dirumah, saya menggunakan pakaian yang sama ketika masih pergi ke kantor setiap hari. It keeps me motivated. And be on-time. Get to your desk at the given time. Bekerja dirumah kita tetap pergi ke kantor, bedanya perjalanan ke kantor hanya 5 detik, yaitu dari kamar tidur ke meja kerja
Agenda kerja
Biasakan untuk memiliki rencana apa yang akan dicapai hari ini, and stick with it. Be commited to the plan. Involve someone else to hold you accountable if you feel like you need it.
Beberapa hal yang membuat rencana ini deviate adalah kebebasan dalam menggunakan komputer dan internet. We tend to browse around and kill our time on social networking tools, television, magazines and other stuffs. Sadari pattern tersebut dan hindari. Put your mind to the game.
Melibatkan orang rumah dalam hal ini untuk saya sangat membantu. Selain mengingatkan, mereka juga aware terhadap apa yang saya kerjakan dan tidak menganggap adanya saya dirumah berarti bebas untuk mengantar kesana-kemari atau menemani anak-anak bermain. Tentu, karena saya mengatur sendiri jadwal saya, sering saya dapat meluangkan waktu untuk menjemput anak-anak dari sekolah. Tapi itupun saya masukkan dalam rencana harian. Mungkin satu atau dua hari dalam seminggu. Anak-anakpun lebih menghargai keberadaan saya dirumah dan mengetahui bahwa saya bekerja, bukan sedang cuti.
Miliki perangkat pendukung
Usahakan untuk memiliki peralatan pendukung yang mencukupi. Tidak perlu berlebihan. Beberapa equipments yang diperlukan sebagai perangkat standar dirumah antara lain:
- Meja dan kursi khusus kerja
- Stationaries
- Desktop/Notebook computer
- Printer
- Telepon & Fax
- Modem dan jaringan internet
Kebutuhan akan perlengkapan berbeda, bergantung pada profesi dan jenis pekerjaan. Mungkin beberapa perangkat berikut juga perlu untuk disediakan:
- Scanner
- Wireless router
- Writing board
- Filing
Sebaiknya -kecuali banyak duit dan tempat memadai- sediakan perangkat secukupnya, tidak perlu berlebihan. Saya masih menggunakan jasa tempat printing seperti Snapy atau Subur untuk kegiatan print-out yang banyak atau fancy. Saya juga tidak memiliki scanner di rumah, cukup ke tempat-tempat yang menyediakan layanan itu.
Escape plan
Ada kalanya keadaan dirumah tidak terlalu mendukung pekerjaan. Bisa pada saat teman anak-anak main ke rumah atau ada persiapan acara, renovasi dan lain-lain. Pada waktu-waktu seperti ini saya harus bisa untuk mencari alternatif tempat kerja. Di banyak kesempatan, bekerja di kamar-pun bisa menjadi solusi walaupun godaan tidur siang jadi cukup besar. Dilain waktu saya turun ke lobby apartment atau ke taman dan mencari spot untuk bekerja. Atau bisa juga pergi ke kafe terdekat yang tidak terlalu ramai.
Beberapa orang menyarankan untuk menyewa Virtual Assistant (VI). Ini akan sangat membantu untuk fokus ke pekerjaan dan biarkan VI mengorganisasi hal-hal lainnya. Saya sampai saat ini belum merasa membutuhkan Virtual Assistant, but I keep that in mind for future references.
–
Bekerja dari rumah untuk saya banyak senang-nya dibanding susah. Namun ini karena saya untuk saat ini bekerja sendiri. Memang saya memiliki karyawan, tetapi mereka setiap hari aktif secara ekslusif di kantor klien. Dengan berkembangnya usaha saya kedepan, ketika saya sudah memerlukan karyawan di kantor, maka saya akan memilih untuk mencari ruang kantor yang tidak jauh dari rumah. Bahkan sebisa-nya di lokasi yang dapat saya raih dengan berjalan kaki.
So what do you think?
Do you have anything to add to the list?
Go and hit the comments form.
Choosing a different future and a different past
It is obvious that every one of us want to succeed in life. Of course, the measurement of success varies. Some think of money as the barometer of success, some are more into position. Some of us would even say that we have achieved success when we look deep into our loved one’s eyes and see pride in their eyes at our achievement, whatever it might be.
For whatever reason, we all want to succeed. But how far and how hard would you try to make it happen? How much are you willing to sacrifice in order to reach your dreams? Would you work endlessly, day and night, without having any doubt that you are going to make it someday? Would you not be jealous of your friends who are out partying and traveling, while you are sitting there in your small office trying to settle some of your work problems? Those are the choices that we have to make if we want to succeed, or not succeed.
Whatever you are currently doing is actually part of the plan of what future you would want to have. And planning those things means that you are choosing your own future. By choosing your future, you inseparably are choosing your own past.
A basketball mirror
Banyak hal yang dapat dipelajari dari olahraga basket (bola basket/basketball). Saya adalah penggemar berat basket. Semenjak SD, hingga kini-pun saya masih main basket di tiap kesempatan yang ada. Kenapa saya suka basket? Mari kita lihat dari sisi seorang pekerja.
Stop being a push over!

Dalam sebuah acara kantor, seorang karyawan tengah berbincang dengan sejumlah koleganya, ketika sang manajer datang untuk ikut ngobrol. Tidak lama setelah itu, ‘pak bos’ mulai berbicara yang secara langsung menghina sang karyawan tadi. Sebagai karyawan yang baik (dan takut kehilangan pekerjaan), ia hanya senyum dan menyimpan perasaan kesal dalam hati.
Ilustrasi diatas sering terjadi di tengah-tengah kita. Baik diantara teman-teman maupun di lingkungan pekerjaan. Lebih sering ini terjadi di lingkungan pekerjaan, yang melibatkan atasan dan anak buah, atau bahkan klien.
Mungkin melakukan hal ini menunjukkan superiority sang bos (atau klien) itu, untuk menunjukkan bahwa ia berada diatas anak buahnya. Dan hampir selalu, karyawan menelan pahit-pahit dan ‘bad rapping‘ dengan orang lain dibelakang. Ketika hal ini terjadi, kedua belah pihak telah melakukan hal yang tidak terpuji. disatu sisi, dan kemudian Insulting bad rapping di sisi lainnya.Tidak satupun diantara kedua behavior tadi yang bisa dibilang terpuji, bukan begitu?
Memang tidak mungkin, untuk
seorang karyawan menyindir balik saat itu juga kepada atasan, atau klien. Apabila ini dilakukan maka kemungkinan untuk dipecat sangat besar, dan ini merupakan tindakan yang bodoh dan tidak berkelas.
Be a professional, suck it up for a while but let it out later. Utarakan keberatan pada orang itu ketika ada waktu untuk bicara eye-to-eye. Kemungkinan terbesar adalah ia akan berkelit dan menuduh anda tidak memiliki rasa humor. That’s OK. Paling tidak ia sudah mengetahui bahwa anda tidak suka diperlakukan seperti itu, dan boleh mulai berharap ia tidak melakukan hal yang serupa lagi.
Studi mengungkapkan, bahwa orang-orang yang menerima begitu saja diperlakukan secara tidak baik, memiliki stress level yang lebih tinggi dibanding mereka yang dapat mengungkapkan perasaaannya, apapun caranya. Dan tidak ada cara yang lebih baik dari bicara secara professional kepada orang yang bersangkutan.
Don’t be a push over, stand up for yourself, but do it in the most elegant way. No need to yell, or cry. Just let him or her know how you feel, and there’s a chance that he/she won’t do it again. And even better, pay more respect to you then ever before.













