Dario Fauri

Gambit’s personal blog

Seni Bekerja di Rumah

with one comment

IMG_0230

Perkembangan karir belakangan ini membuat saya bisa lebih sering bekerja di rumah. Banyak kok hal-hal yang saya rasa cukup bermanfaat dengan bekerja di rumah ini. Saya jadi lebih leluasa meluangkan waktu dengan keluarga, itu satu. Selain itu juga, dan ini sangat penting, tidak perlu meluangkan waktu lama di jalanan. Crap, biasanya saya sampai kantor itu sudah mendulang stress cukup tinggi karena semrawutnya jalanan dan tipe berkendara orang-orang di Jakarta. Belum macet, panas dan parkir yang kadang susah.

Tapi dibelakang semua luxury itu, ada kompensasi yang harus dihadapi. Kebebasan yang didapat membuat saya harus meningkatkan disiplin diri. Harus. Hal itu sudah menjadi sebuah komitmen terhadap perubahan ini.

Ini beberapa hal yang saya sesuaikan, supaya produktifitas tidak terganggu dengan bekerja dari rumah:

Rise up and dress up!

Tidak. Bekerja dirumah bukan artinya saya leluasa untuk tidur sampai siang.

Saya membiasakan untuk menetapkan jam berapa saya harus mulai kerja. Dalam hal ini adalah jam 08:30.
Saya tetap bangun pagi untuk menemani anak-anak sebelum pergi sekolah. Kemudian saya gunakan waktu untuk melakukan update kegiatan online saya, terutama email, Feed reader, Twitter dan Facebook. Disini saya mendapatkan keleluasaan yang cukup berbeda dibanding waktu masih pergi ke kantor, yaitu waktu update jadi lebih lama. Saya juga sempat untuk browsing content dan mencoba beberapa tools online baru.

Put on a decent outfit. Jangan pakai piyama pula. Saya memang tidak menggunakan jas dan dasi, saya selalu menggunakan pakaian yang nyaman bahkan ketika waktu masih berkantor. Bekerja dirumah, saya menggunakan pakaian yang sama ketika masih pergi ke kantor setiap hari. It keeps me motivated. And be on-time. Get to your desk at the given time. Bekerja dirumah kita tetap pergi ke kantor, bedanya perjalanan ke kantor hanya 5 detik, yaitu dari kamar tidur ke meja kerja

Agenda kerja

Biasakan untuk memiliki rencana apa yang akan dicapai hari ini, and stick with it. Be commited to the plan. Involve someone else to hold you accountable if you feel like you need it.

Beberapa hal yang membuat rencana ini deviate adalah kebebasan dalam menggunakan komputer dan internet. We tend to browse around and kill our time on social networking tools, television, magazines and other stuffs. Sadari pattern tersebut dan hindari. Put your mind to the game.

Melibatkan orang rumah dalam hal ini untuk saya sangat membantu. Selain mengingatkan, mereka juga aware terhadap apa yang saya kerjakan dan tidak menganggap adanya saya dirumah berarti bebas untuk mengantar kesana-kemari atau menemani anak-anak bermain. Tentu, karena saya mengatur sendiri jadwal saya, sering saya dapat meluangkan waktu untuk menjemput anak-anak dari sekolah. Tapi itupun saya masukkan dalam rencana harian. Mungkin satu atau dua hari dalam seminggu. Anak-anakpun lebih menghargai keberadaan saya dirumah dan mengetahui bahwa saya bekerja, bukan sedang cuti.

Miliki perangkat pendukung

Usahakan untuk memiliki peralatan pendukung yang mencukupi. Tidak perlu berlebihan. Beberapa equipments yang diperlukan sebagai perangkat standar dirumah antara lain:
- Meja dan kursi khusus kerja
- Stationaries
- Desktop/Notebook computer
- Printer
- Telepon & Fax
- Modem dan jaringan internet

Kebutuhan akan perlengkapan berbeda, bergantung pada profesi dan jenis pekerjaan. Mungkin beberapa perangkat berikut juga perlu untuk disediakan:
- Scanner
- Wireless router
- Writing board
- Filing

Sebaiknya -kecuali banyak duit dan tempat memadai- sediakan perangkat secukupnya, tidak perlu berlebihan. Saya masih menggunakan jasa tempat printing seperti Snapy atau Subur untuk kegiatan print-out yang banyak atau fancy. Saya juga tidak memiliki scanner di rumah, cukup ke tempat-tempat yang menyediakan layanan itu.

Escape plan

Ada kalanya keadaan dirumah tidak terlalu mendukung pekerjaan. Bisa pada saat teman anak-anak main ke rumah atau ada persiapan acara, renovasi dan lain-lain. Pada waktu-waktu seperti ini saya harus bisa untuk mencari alternatif tempat kerja. Di banyak kesempatan, bekerja di kamar-pun bisa menjadi solusi walaupun godaan tidur siang jadi cukup besar. Dilain waktu saya turun ke lobby apartment atau ke taman dan mencari spot untuk bekerja. Atau bisa juga pergi ke kafe terdekat yang tidak terlalu ramai.

Beberapa orang menyarankan untuk menyewa Virtual Assistant (VI). Ini akan sangat membantu untuk fokus ke pekerjaan dan biarkan VI mengorganisasi hal-hal lainnya. Saya sampai saat ini belum merasa membutuhkan Virtual Assistant, but I keep that in mind for future references.

Bekerja dari rumah untuk saya banyak senang-nya dibanding susah. Namun ini karena saya untuk saat ini bekerja sendiri. Memang saya memiliki karyawan, tetapi mereka setiap hari aktif secara ekslusif di kantor klien. Dengan berkembangnya usaha saya kedepan, ketika saya sudah memerlukan karyawan di kantor, maka saya akan memilih untuk mencari ruang kantor yang tidak jauh dari rumah. Bahkan sebisa-nya di lokasi yang dapat saya raih dengan berjalan kaki.

So what do you think?
Do you have anything to add to the list?
Go and hit the comments form.

Written by Dario Fauri

July 24, 2009 at 6:12 pm

Posted in Productivity

Tagged with

Tweet it… Tweet it… Twitter-ku berbunyi…

leave a comment »

3691255504_83a9962d2c

Seperti yang selalu terjadi di Indonesia, Twitter yang kini sedang trend-pun menjadi sasaran empuk banyak pengguna Internet di Indonesia.

Banyak orang mulai menggunakan service ini dengan alasan yang berbeda-beda. Ada yang ingin coba-coba, Ada yang diracuni teman, atau karena trend itu sendiri. Bisa juga atas alasan sangat serderhana: karena punya Blackberry. Why not? You are paying almost 200k per month for its unlimited data plan anyways, it’s hell of a good reason!

Namun sayang kesederhanaan alasan tersebut diikuti dengan kesederhanaan dalam menyesuaikan kultur.

We know you know how to use Facebook. Congratulations, oh just how modern you are.. Your teacher must be so proud!! But let me tell you one thing, Twitter is not Facebook and Facebook is not Twitter. And it is definitely not the same as SMS.

Saya bukan ahli di Twitter, bahkan saya adalah salah satu late adopters di Twitter. Memang saya telah bergabung sejak Oktober 2008, namun baru aktif tweeting pada bulan Februari 2009.

Ini beberapa yang saya pelajari tentang penggunaan, kultur dan etika Tweeting:

Be short, be simple

Twitter membatasi karakter dalam tiap tweet sebanyak 140 karakter. And that’s the beauty of tweeting. Sesuatu yang Mpok Ati Akan kesulitan untuk menggunakan, tentunya. Tapi simplicity inilah yang justru menjadi keunggulan Twitter.

Choose your words wisely, dan sebisanya biarkan pesan berantai digunakan para penipu. That “1/3, 2/3, 3/3″ is simply not suitable for Twitter. Find other services, like FriendFeed, which offers longer entries. Or go back to Facebook.

Twitter bukan digital diary

Coba baca ini: “jalan masuk kerumah. Makan ah”. Who the hell cares? Add value to your tweets.

Contohnya:
“baru sampe rumah, mau makan. Wah tadi jalanan lumayan macet, kalo bisa hindari Antasari”
It has something that your followers could benefit from. Don’t be an arse and fill up their timeline with your nonsense. It’s rude.

@reply and start engaging

Twitter, seperti juga Facebook, adalah tool online social networking atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan Social Media. Ketika melihat sesuatu yang menarik di timeline, Twitter menyediakan fitur @reply. Gunakan fitur ini untuk membalas secara spesifik kepada orang yang bersangkutan. Reply Akan terlihat di timeline orang itu dan juga orang-orang yang following kedua belah pihak.

RT = Retweet

Bisa lihat bahwa saya menempatkan @reply dan RT di judul berbeda?

Ya karena memang fungsinya berbeda. Kita menggunakan RT untuk forward tweets yang menarik untuk dilihat followers kita. Bukan untuk me-reply tweets.

So that would be @reply untuk membalas tweet,
And RT untuk forward tweet. Get it?

Read the rest of this entry »

Written by Dario Fauri

July 21, 2009 at 11:26 am

Posted in SocialMedia

Tagged with , ,

The Amazing Power of Social Media

with 4 comments

Bridge

Photography by Zach K.

Social media is definitely powerful on bridging communication with friends from all over the world, and even making new friends. I did not continue to start writing until I started to engage communication with some people on Twitter.

I found this truly amazing. Kyle Lacy, Staci J. Shelton and Noel Bellen.. I have never met these people in person, and I believe they had no idea of who I was before we started to communicate online. It was by their support that I found new spirit and become passionate again in writing. I strongly believe that there are a lot of other great people we could meet online.

However, the example above only works if YOU work it. I wouldn’t dare to expect those three amazing people would give their support to me if I hadn’t try to communicate with them, and also giving my support TO them.


Kyle LacyKyle Lacy is one of the most influential people in Social Media while I’m just starting to get into the  business. Not only that he let me learn from him, he also gave his support. He is now, without any doubt, my role model. I’m now planning and saving money so I can get myself to one of his smash
classes.


staci_sheltonStaci J. Shelton is another great example. She has thousands of followers on Twitter and she communicates with a lot of them in a daily basis.

I didn’t really know what Twitter was all about until I started to follow Staci. I started to learn from her and how she manages to engage with her friends on Twitter. It came to a surprise to me, that she actually remembered every single communication we have had. It’s amazing how she shows her interests in helping me, someone she barely knew and have never met in person.

Noel BellenNoel Bellen is no different. It all started with how he –just like Kyle and Staci- always noticed when I support his blog by sharing the articles on his blog to my followers.

He never misses to say thanks and replies to my tweets. I wasn’t confident enough to start publishing my writing due to my lack of skills in English. Noel told me to just go out there and do it. Write in my own language if I must, there is always Google Translate to help readers with. It’s amazing how he encouraged me to do this.


You see, social media is just a tool. It’s out there for you to use, and most of them are free. But it’s not going to help you if you are not utilizing it with the right attitude. It is never too late to learn. And while you are at it, why not learning it from the BEST? Then when it’s time for YOU to shine, make it your business to help others, especially those who are new to the social media world.

Now, do you know any GREAT people to recommend, or maybe you have experienced the same thing as I have? Please share it on the comment form below…

Written by Dario Fauri

May 21, 2009 at 9:30 pm

What I Have Learned From Twitter

with 3 comments

essay

Photographed by Martin Kingsley

On the very beginning of my Twitter experience, I tend to used Twitter as a source to get informed of the latest development on the Internet and social media, in which I have an enormous interests in. It was really rare that I interact with my followers as well as the people I follow.


In times, I learned that Twitter is not made only to share links or information, thus only to post “what are you doing?” without paying attention to people around you. Twitter is so much more than that!


Twitter was not built for chatting purposes, I think YM and MSN has covered that nicely. But relationship in Twitter, without any doubt, is a mandatory. We should never neglect relationship with other users on Twitter. Moreover, to those who are using Twitter as a marketing tools of their brand, or bloggers or service providers, engaging with your follower is a dead-must.


What I had realize afterwards, was that Twitter has taught me to improve the way I interact with other people on my daily lives. Twitter, with all its limitation, has led me to a realization of how small-words such as “Good morning”, “How are you doing today?”, Wish everyone a wonderful day” can give you a towering positive effects to your social life.


Through Twitter, I also realized how a short respond like “Thank you” or “I appreciate that” or “You’re my man” gives a positive impact of you in other people’s eye. Even sometimes more valuable than a long sentenced respond. Not until I use Twitter that I am aware how much a very simple thing can lead you to a better relationship with people around you. Even something very simple, like: “
;-).

Written by Dario Fauri

May 16, 2009 at 11:19 pm

Choosing a different future and a different past

leave a comment »

It is obvious that every one of us want to succeed in life. Of course, the measurement of success varies. Some think of money as the barometer of success, some are more into position. Some of us would even say that we have achieved success when we look deep into our loved one’s eyes and see pride in their eyes at our achievement, whatever it might be.

For whatever reason, we all want to succeed. But how far and how hard would you try to make it happen? How much are you willing to sacrifice in order to reach your dreams? Would you work endlessly, day and night, without having any doubt that you are going to make it someday? Would you not be jealous of your friends who are out partying and traveling, while you are sitting there in your small office trying to settle some of your work problems? Those are the choices that we have to make if we want to succeed, or not succeed.

Whatever you are currently doing is actually part of the plan of what future you would want to have. And planning those things means that you are choosing your own future. By choosing your future, you inseparably are choosing your own past.

Written by Dario Fauri

November 19, 2008 at 5:52 pm

A basketball mirror

leave a comment »

Banyak hal yang dapat dipelajari dari olahraga basket (bola basket/basketball). Saya adalah penggemar berat basket. Semenjak SD, hingga kini-pun saya masih main basket di tiap kesempatan yang ada. Kenapa saya suka basket? Mari kita lihat dari sisi seorang pekerja.


Anda tidak akan menjadi seorang pemain basket yang sempurna, apabila tidak dapat bekerjasama dengan anggota tim lainnya. Lihat Michael Jordan, betapa dia tidak ada yang mengalahkan ketika beradu one-on-one. Tetap saja, terutama dalam defense, dia memerlukan anggota tim lainnya untuk dapat memenangi pertandingan. Tidak Michael Jordan, Kobe Bryant, LeBron James atau siapapun, yang dapat memenangi pertandingan basket tanpa dapat bekerjasama dengan tim. Kecuali, tentu-nya, pertandingan one-on-one!

Dalam bekerja kita terbiasa mendengar arahan dari atasan kita, yang memberikan instruksi kepada tim bawahannya dalam pelaksanaan suatu tugas. Ini sama persis dengan tugas seorang pelatih yang memberikan arahan dan strategi kepada 5 pemain yang akan turun ke lapangan setelah time-out. Salah memberi arahan, jelas akan membingungkan pemain-pemainnya, dan strategi tidak akan terlaksana dengan baik.

Di sisi lain, pada saat-saat genting (bayangkan 10 detik tersisa di babak terakhir dengan skor menunjukkan perbedaan 2 poin saja). Satu saja pemain yang tidak mengikuti game-play, maka besar kemungkinan tim tersebut akan kalah, apalagi bisa tim lawan melaksanakan strategi dan bekerjasama dengan baik. Ini berlaku untuk kedua pihak, offense dan defense.

So it’s very important to keep the game plan, and follow it with all your heart. If you don’t agree, be a man and stand up before the decision was made. Try as hard as you think important to counter the idea, and slip in yours. Negotiate to success. But then, when the decision was made not in the way you wish it to be, suck it up and play your role! Be a bigger man, keep up the team spirit. Hanya diperlukan 1 team member untuk mengacaukan seluruh strategi dan kerjakeras tim.

Written by Dario Fauri

October 12, 2008 at 9:35 pm

Posted in Uncategorized

Stop being a push over!

leave a comment »


Dalam sebuah acara kantor, seorang karyawan tengah berbincang dengan sejumlah koleganya, ketika sang manajer datang untuk ikut ngobrol. Tidak lama setelah itu, ‘pak bos’ mulai berbicara yang secara langsung menghina sang karyawan tadi. Sebagai karyawan yang baik (dan takut kehilangan pekerjaan), ia hanya senyum dan menyimpan perasaan kesal dalam hati.

Ilustrasi diatas sering terjadi di tengah-tengah kita. Baik diantara teman-teman maupun di lingkungan pekerjaan. Lebih sering ini terjadi di lingkungan pekerjaan, yang melibatkan atasan dan anak buah, atau bahkan klien.

Mungkin melakukan hal ini menunjukkan superiority sang bos (atau klien) itu, untuk menunjukkan bahwa ia berada diatas anak buahnya. Dan hampir selalu, karyawan menelan pahit-pahit dan ‘bad rapping‘ dengan orang lain dibelakang. Ketika hal ini terjadi, kedua belah pihak telah melakukan hal yang tidak terpuji. disatu sisi, dan kemudian Insulting bad rapping di sisi lainnya.Tidak satupun diantara kedua behavior tadi yang bisa dibilang terpuji, bukan begitu?

Memang tidak mungkin, untuk seorang karyawan menyindir balik saat itu juga kepada atasan, atau klien. Apabila ini dilakukan maka kemungkinan untuk dipecat sangat besar, dan ini merupakan tindakan yang bodoh dan tidak berkelas.

Be a professional, suck it up for a while but let it out later. Utarakan keberatan pada orang itu ketika ada waktu untuk bicara eye-to-eye. Kemungkinan terbesar adalah ia akan berkelit dan menuduh anda tidak memiliki rasa humor. That’s OK. Paling tidak ia sudah mengetahui bahwa anda tidak suka diperlakukan seperti itu, dan boleh mulai berharap ia tidak melakukan hal yang serupa lagi.

Studi mengungkapkan, bahwa orang-orang yang menerima begitu saja diperlakukan secara tidak baik, memiliki stress level yang lebih tinggi dibanding mereka yang dapat mengungkapkan perasaaannya, apapun caranya. Dan tidak ada cara yang lebih baik dari bicara secara professional kepada orang yang bersangkutan.

Don’t be a push over, stand up for yourself, but do it in the most elegant way. No need to yell, or cry. Just let him or her know how you feel, and there’s a chance that he/she won’t do it again. And even better, pay more respect to you then ever before.

Written by Dario Fauri

October 4, 2008 at 1:27 am

Posted in Uncategorized

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.